Caption Foto : dr. Fatin Hamamah Sp.M saat berdialog di program Humas RSUD Jombang

mediapetisi.net – Program Humas RSUD Jombang menyapa kali ini berkesempatan berdialog dengan dr. Fatin Hamamah, Sp.M terkait pelayanan Mata di RSUD Jombang.  Predikat sebagai Rumah Sakit Tipe B Pendidikan dengan predikat akreditasi paripurna dan Rumah Sakit dengan tingkat kepatuhan BPJS terbaik sehingga masyarakat tidak usah ragu-ragu lagi untuk berobat di RSUD Jombang. Senin (18/1/2021)

Dalam kesempatan tersebut, Dokter Spesialis Mata dr. Fatin Hamamah, Sp.M menyampaikan bahwa Retinopti diabetik merupakan gangguan pada mata, yang terjadi pada penderita diabetes. Pada awalnya, sering kali retinopati diabetik hanya menunjukkan gejala ringan, atau bahkan tidak ada gejala sama sekali. Namun apabila tidak ditangani, retinopati diabetik dapat menyebabkan kebutaan.

Penderita diabetes di Indonesia menduduki peringkat ke-6, peringkat ini di bawah China, India, USA, Brazil, Mexico. 40 % dari penderita diabetes beresiko mengalami Retinopati Diabetik , bahkan 8% terancam kebutaan. 

“Sedangkan komplikasi khronis Diabetes Melitus ( DM ) yakni Makrovaskuler, Stroke, penyakit Jantung dan Hipertensi serta penyakit pembuluh darah. Selain itu, Mikrovaskuler, Mata : Diabetik Retinopati, katarak, Glaukoma, penyakit Ginjal dan Neuropathy. Diabetik Retinopati merupakan Komplikasi mikrovaskuler khronis DM,” ungkapnya.

Ada beberapa faktor yang memperbesar resiko terjadinya Diabetik Retinopati pada penderita DM Durasi ( lama menderita DM), Hiperlikemia, Hipertensi, Hiperlipidemia, Kehamilan dan Nephropathy. Sedangkan Less Consistent Factor terdiri dari Obesitas, Merokok, Alkohol, Inaktitifitas fisik, Klasifikasi Retinopati Diabetik (RD) Retinopati Diabetik non Proliferatif (RDNP/NPDR )

“Retinopati Diabetik Proliferatif (RDP/PDR) baik pada RDNP maupun RDP dapat terjadi Diabetic Macular  Edema ( DME ) yang dapat menyebabkan kemunduran tajam penglihatan , yang mana memerlukan penatalaksanaan aktif adalah RDNP dengan DME, RDP baik dengan atau tanpa DME,” terang dr. Fatin.

Menurut dr. Fatin, gejala Retinopati diabetik diantaranya kesulitan membaca, Penglihatan kabur karena edema macula, penglihatan tiba-tiba menurun, melihat lingkaran cahaya bila terjadi perdarahan vitreus. Oleh karena itu disarankan pada penderita DM untuk segera memeriksakan diri ke dokter mata. Untuk menentukan retinopati diabetik, dokter akan melihat bagian dalam bola mata pasien dengan alat khusus oftalmoskopi, OCT maupun Fluoresin Angiography.

“Untuk Tata laksana Diabetik Retinopati diantaranya terapi sistemik, mengontrol gula darah, pengendalian tekanan darah, mengatur lipid darah dan intervensi metabolik. Tidak hanya itu, Terapi Okular terdiri dari laser fotokoagulasi, Injeksi kortikosteroid intravitreal, Injeksi Anti VEGF, Intravitreal dan Vitrektomi,” jelasnya. 

Sedangkan pada fase awal Retinopati Diabetik mungkin hanya memerlukan terapi sistemik, bila retinopati diabetik semakin progresif atau didapatkan DME maka diperlukan terapi sistemik dan terapi okuler. Oleh karena itu penting untuk evaluasi penderita diabetes ke SMF Mata untuk menentukan ada tidaknya komplikasi khronis mikrovaskuler (Diabetik Retinopati).

“Segeralah periksakan ke RSUD Jombang ke Poli Mata, ada dr. Fatin Hamamah, Sp.M dan dr. Iqbal Hilmi, Sp.M, buka pelayanan setiap hari Senin sampai Jum’at sebagai pencegahan retinopati diabetik. Selain itu dapat mengatur kadar gula darah hingga nilai normal merupakan salah satu cara mencegah hilangnya penglihatan karena pada penderita diabetes,” pungkas dr. Fatin. (yn)