Caption Foto : Direktur RSUD Jombang bersama Wakil Direktur dan Jajaran Struktural serta tim medis Poli Paru

mediapetisi.net – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang memperingati Hari TBC (Tuberkuloasis) Sedunia Tahun 2023 secara sederhana dengan tema “Ayo Bersama Akhiri TBC, Indonesia Bisa”.  Dihadiri Pejabat Struktural dan Tim Medis Poli Paru RSUD Jombang dan 56 orang pasien TBC dengan tenaga pendamping. Bertempat di Poli Paru RSUD Jombang. Jum’at (17/3/2023)

Direktur RSUD Jombang Dr dr Ma’murotus Sa’diyah M. Kes ketika diwawancarai mengatakan bahwa RSUD Jombang memperingati Hari TBC (Tuberkuloasis) Sedunia Tahun 2023 secara sederhana dengan menyerahkan bingkisan kepada pasien TBC yang sudah sembuh. Mereka diundang untuk memperoleh materi pembekalan masalah TBC seperti gejala awal timbulnya TBC, cara pengobatan, upaya hidup sehat, serta bagaimana menghindari, mempertahankan hidup sehat bebas dari TBC.

“Kami juga menyerukan kepada seluruh pasien untuk terus optimis bisa sembuh. Asalkan mau berobat, secara rutin, boleh di Puskesmas maupun di RSUD. Yang penting mau berobat. Obat bisa diiperoleh secara gratis. Pemerintah Indonesia mendapat bantuan dari WHO dan yang kedua, jangan malas bergerak,” terang dokter Ma’murotus Sa’diyah yang akrab dipanggil Ning Eyik.

Menurut Ning Eyik, Tuberkulosis (TBC)  atau TB merupakan penyakit menular akibat infeksi bakteri. TBC umumnya menyerang paru-paru, tetapi juga dapat menyerang organ tubuh lain, seperti ginjal, tulang belakang, dan otak. Menurut WHO, sebanyak 1,5 juta orang meninggal akibat penyakit TBC di tahun 2020. Penyakit ini merupakan penyakit dengan urutan ke–13 yang paling banyak menyebabkan kematian, dan menjadi penyakit menular nomor dua yang paling mematikan setelah Covid-19.

“Untuk itu, kami mengajak kalangan masyarakat untuk menghilangkan stikma, atau anggapan terhadap TBC. Bahwa TBC bukan penyakit turunan, bukan penyakit kutukan, bukan penyakit yang tabu. Semua orang bisa terkena TBC, tapi yang penting mau berobat,” ajak Ning Eyik.

Ning Eyik mengepresiasi pada pasien yang telah sembuh karena mereka telah komitmen optimis mempunyai semangat sembuh dengan minimal meminum obat secara rutin selama enam bulan. Bagi yang parah, TB MDR misalnya, bisa enam bulan lebih dengan kombinasi obat cukup banyak. Ada yang putus tidak berobat, tapi yang semangat berobat bisa pulih sembuh dan mampu bekerja secara normal.

“TBC di Kabupaten Jombang  juga harus menjadi perhatian, karena relatif masih banyak dan menduduki urutan kelima di Jawa Timur. Penularan TBC tergantung dari kekuatan daya tahan tubuh. Meskipun tiap hari bersama orang TBC, bisa tidak tertular. Zaman dulu belum ada obat, orang cukup dengan berjemur di bawah sinar matahari,” jelasnya.

Sedangkan upaya pemberantasan TBC di RSUD Jombang dengan memberikan layanan dengan cara memilah, tidak mencampur dengan pasien umum. Bahkan, ruang layanan Poli Paru diberikan sekat-sekat, agar sirkulasi udara bisa berlangsung secara baik. Yang kategori MDR (Multidrug-Resistant) tidak harus ikut antri, akan tetapi dilayani secara khusus. Karena MDR jenis tuberkulosis yang kebal terhadap 2 obat antituberkulosis paling kuat) itu dikasih tanda register tersediri. Bahkan saat mengambil obat ke tempat khusus, tidak perlu daftar, bisa melalui WA group, atau bisa diantar oleh tenaga medis pendamping.

“Untuk itu, Poli Paru di RSUD Jombang memberikan pelayanan pasien TBC setiap hari Senin – Kamis mulai pukul 08.00 – 12.00 WIB dan hari Jum’at pukul 08.00 – 11.00 WIB. Terdapat tiga ruang tunggu, A, B, dan C, untuk memilah kategori kualitas penderita saat pelayanan. Poli Paru ada empat unit jenis layanan, didukung 2 orang  dokter spesialis yakni dokter Rustam dan dokter Yuniasri Puspito Rini serta 4 tenaga medis pendukung,” tandas Ning Eyik.

Sementara itu, Ketua Panitia Hari TBC Dokter Spesialis Paru dr. Yuniasri Puspito Rini Sp.P mengatakan TBC membutuhkan diagnosis medis karena kebanyakan orang yang terinfeksi dengan bakteri yang menyebabkan tuberkulosis tidak memiliki gejala. Indonesia berada di urutan ke 2 negara dengan kasus TBC tertinggi di dunia setelah India berdasarkan data Global TB Report (GTR) tahun 2022 dengan perkiraan kasus TBC sebanyak 969.000 dengan incidence rate atau temuan kasus sebanyak 354 per 100.000 penduduk. Penyakit ini dapat berakibat fatal bagi penderitanya jika tidak segera ditangani.

Penularan tuberkulosis TBC terjadi ketika seseorang tidak sengaja menghirup percikan ludah (droplet) saat seseorang yang terinfeksi TBC bersin atau batuk. Oleh sebab itu, risiko penularan penyakit ini lebih tinggi pada orang yang tinggal serumah dengan penderita TBC.

“TBC pada paru-paru akan menimbulkan gejala berupa batuk lebih dari 3 minggu yang dapat disertai dahak atau darah. Selain itu, penderita juga akan merasakan gejala lain, seperti demam, nyeri dada dan berkeringat di malam hari. Untuk pengobatan TBC adalah dengan mengonsumsi obat sesuai dosis dan anjuran dari  dokter. Jenis obat yang diresepkan untuk mengatasi TBC antara lain rifampicin dan ethambutol. TBC dapat dicegah dengan vaksin BCG sebelum bayi berusia 2 bulan. Pencegahan juga dapat dilakukan dengan menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit dan memakai masker saat berada di tempat ramai,” pungkas dokter Rini. (iin)