Caption Foto : Plt. Kepala Dinas Dikbud Jombang Jumadi saat diwawancarai

mediapetisi.net – Sampai saat ini tingkat SD dan SMP masih melaksanaan tatap muka secara terbatas atau sistem shift karena pelaksanaan PTM (Pembelajaran Tatap Muka) secara 100% di kabupaten Jombang masih menunggu regulasi dari pemerintah daerah. Berbeda dengan tingkat SMK/SMA/SLB di Jombang yang sudah masuk tindak lanjut SKB 4 menteri tentang PTM terbatas SMA/SMK/SLB Jawa Timur tahun 2022 siswa masuk 100%.

“Kami masih menunggu regulasi dari pemerintah daerah terkait pelaksanaan pembelajaran tatap muka secara 100%,apa pun itu kebijakannya pasti akan kami lakukan karena kami sudah siap dari segi apapun mulai sarana prasarana, protokol kesehatan nya, dan kurikulum yang mau di kemas. Namun sampai saat ini belum ada regulasi terbaru dari pemerintah daerah jadi kita masih tetap menggunakan sistem pembelajaran shift,” terang Jumadi Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang saat dikonfirmasi. Kamis (6/01/2022)

Menurut Jumadi, dengan adanya program vaksinasi untuk umur 6 sampai 11 tahun merupakan salah satu cara untuk bisa menjalankan tatap muka secara 100%  sehingga ditargetkan bulan Januari vaksinasi tersebut sudah selesai.

Caption Foto : Gus Sentot Wakil Ketua Komisi D saat ditemui di DPC 

“Untuk berapa persennya vaksinasi anak umur 6 sampai 11 tahun saat ini merupakan wewenang dan kebijakan dari Dinas Kesehatan yang bisa menjawab, namun harapan kita bulan Januari vaksinasi untuk umur 6 sampai 11 tahun sudah selesai. Kita pun tidak mempunyai jadwal vaksin karena punya jadwal vaksin yakni Puskesmas setempat sedangkan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang menyiapkan Sumber Daya manusia yakni siswa yang akan divaksin,” jelasnya.

Lanjut Jumadi, diperbolehkan atau tidaknya murid divaksin merupakan hak dari setiap wali murid, namun akan tetap diimbau dan tetap membuat pernyataan alasan tidak mau anaknya di vaksin.

“Terkait dengan tragedi meninggal nya salah satu murid dari hasil tim kesehatan kemarin memang itu bukan karena vaksin.

Sehingga kita punya kewajiban kepada masyarakat untuk meyakinkan bahwa vaksin tersebut salah satu bentuk membangun imunitas pada diri kita masing masing. Dan ketika orang tua ditanya oleh tim screening harus jujur apabila anaknya memiliki riwayat sakit bilang saja memiliki riwayat sakit agar selamat tidak terjadi apa-apa,” paparnya.

Tidak hanya itu, Jumadi juga mengatakan dengan munculnya varian virus baru (omicron) di Jawa Timur tidak ada dampak di lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang. Menurutnya di lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Jombang aman – aman saja karena sampai saat ini Dinas Kesehatan Jombang belum memberikan kabar sesuatu terkait hal tersebut. Dan anak – anak masuk seperti biasa yakni sistem shift dengan harapan bisa segera melakukan pembelajaran 100%,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi D DPRD Jombang, H. Syarif Hidayatullah, ST., MMT. yang akrab dipanggil Gus Sentot mengucapkan belasungkawa kepada keluarga korban dan berharap perihal kabar meninggalnya siswa karena vaksin segera di tindak lanjuti.

“Saya berharap Dinas Kesehatan Jombang bisa klarifikasi pada masyarakat Jombang bahwa musibah yang kemarin bukan karena vaksin. Karena jujur saja anak saya juga divaksin dan Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada efek apa – apa, maka jangan sampai isu yang belum jelas seperti ini menghambat vaksinasi di Kabupaten Jombang. Kita butuh percepatan vaksinasi khususnya untuk tingkat pelajar mengingat banyaknya varian varian Covid 19 yang masuk di Indonesia dan ketika vaksinasi prokes harus lebih diperketat,” harapnya.

Gus Sentot juga berharap orang tua dari siswa mengizinkan anaknya untuk melakukan vaksinasi, karena program vaksinasi merupakan program pemerintah dan program nasional. Apabila ada orang tua yang melarang anaknya untuk vaksinasi diharapkan ada pendekatan, dari Dinas Kesehatan Jombang dengan memberikan sosialisasi terkait vaksinasi kepada orang tua, pungkasnya. (lis)