Caption Foto : Suasana Perayaan Tradisi Riyaya Unduh-unduh GKJW
mediapetisi.net – Ribuan warga dari berbagai daerah memadati lokasi untuk menyaksikan Tradisi Riyaya Unduh-Unduh Gereja Kristen Jawa Wetan (GKJW) Mojowarno. Sebuah ritual tahunan yang sarat makna syukur atas hasil panen sekaligus simbol kuat toleransi umat beragama di Kabupaten Jombang. Minggu (10/05/2026)
Sejak pagi pukul 06.00 WIB, antusiasme warga sudah terlihat. Tujuh bangunan hasil bumi yang dihias berlapis patung, ornamen khas Jawa, hingga aneka hasil pertanian berjajar rapi. Tradisi ini menjadi magnet tidak hanya bagi umat Kristen, tetapi juga masyarakat lintas agama yang ingin menyaksikan kekayaan budaya khas GKJW Mojowarno.
Prosesi puncak diawali dengan Tari Bedayan yang menjadi ciri khas Riyaya Unduh-Unduh. Tarian ini menggambarkan sejarah panjang tradisi sebagai bentuk rasa syukur atas panen yang melimpah. Setelah itu, perwakilan penari menyerahkan padi dan ubo rampe (perlengkapan tradisional) kepada pendeta sebagai tanda dimulainya arak-arakan.
Guru Injil GKJW Mojowarno, Imam Ghozali, menjelaskan bahwa Riyaya Unduh-Unduh adalah tradisi tahunan yang digelar setiap minggu kedua Mei.
Ada tujuh bangunan yang diarak dari Blok Mojotengah, Mojowarno, Mojojejer, Mojodukuh, Mojowangi, Mojoroto, dan RSK. Setiap bangunan berisi hasil bumi, ayam, kambing, hingga lukisan sesuai tema masing-masing wilayah. Setelah ibadah selesai, hasil bumi tersebut nanti dilelang.
“Setiap bangunan punya keunikan sendiri, dihias seperti parsel lengkap dengan patung sesuai tema cerita. Harapannya acaranya semakin besar, semakin ramai, dan masyarakat tetap tertib,” jelas Imam.
Menurut Imam, tradisi ini menjadi bagian penting dalam menjaga warisan budaya gereja yang telah hidup ratusan tahun. Unduh-Unduh selalu menghadirkan suasana ramai dan kebersamaan.
“Riyaya Unduh-Unduh ini ada di seluruh GKJW di Jawa Timur, tetapi yang memiliki tradisi seperti di Mojowarno hanya satu-satunya. Tabuh lesung memiliki filosofi mendalam. Dulu sebelum era modern, padi dijemur lalu ditumbuk pakai lesung. Itu kami tampilkan agar generasi sekarang mengenal budaya leluhur,”* tuturnya.
Asisten Pemerintahan dan Kesra Setdakab Jombang Purwanto mewakili Bupati Jombang Warsubi menyebut Tradisi Unduh-Unduh bukan sekadar budaya gerejawi, melainkan juga sarat nilai sosial dan toleransi.
“Tradisi ini mengandung nilai gotong royong, kepedulian sosial, kebersamaan, dan semangat berbagi. Ini adalah kearifan lokal yang harus dijaga untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman. Mari bersama secara kolaboratif dan harmonis menjaga kondusifitas dengan memperkuat persatuan dan kesatuan,” ujar Purwanto.
Kerukunan masyarakat seperti inilah yang menjadi modal penting bagi Jombang sebagai Kota Santri yang terus menjunjung tinggi toleransi antar-umat beragama, pungkas Purwanto. (yn)









