Caption Foto : Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak saat mengisi kelas leadership bertajuk ‘menjadi pemimpin kekinian’  BGTC) 2023 di ITS Surabaya

mediapetisi.net – Bisnis Indonesia menggelar Bisnis Indonesia Goes To Campus (BGTC) 2023 dengan kelas leadership bertajuk ‘menjadi pemimpin kekinian’ oleh Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak. Bertempat di Auditorium Pascasarjana Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya. Jumat (26/5/2023)

Direktur Bisnis Indonesia Hery Trianto mengatakan pada tahun lalu BGTC telah masif menggelar kegiatan berbagai literasi di 8 kampus tersebar di sejumlah daerah seperti di Jawa, Kalimantan, Sumatra, NTT dan Sulawesi. Jumlah peserta yang hadir secara offline tahun lalu mencapai 3.000 orang dan secara online sebanyak 14.000 orang.

“Untuk tahun ini Bisnis Indonesia Goes To Campus menghadirkan para ahli di bidangnya untuk memberikan materi menjadi pemimpin kekinian,” terangnya. 

Sementara itu, Wakil Gubernur Jatim Emil Elestianto Dardak menyampaikan manfaat bonus demografi untuk mewujudkan visi Indonesia Emas pada 2045. Bonus demografi yakni jumlah penduduk usia produktif (16-64 tahun) jauh lebih banyak dibandingkan dengan nonproduktif.

“Untuk itu, saya mengajak para mahasiswa untuk berani menjawab tantangan bonus demografi ini,” ungkapnya.

Menurut Wagub Emil, struktur penduduk saat ini didominasi oleh kalangan usia produktif (16-64 tahun) dan hanya terjadi sekali dalam sejarah Indonesia yakni pada 2020 – 2030. Karena pada 2016, potensi ekonomi dari produk domestik bruto (PDB) tercatat US$0,92 triliun dengan tingkat pendapatan per kaita US$3.600. Namun ada potensi ekonomi saat bonus demografi 2045 yakni PDB US$9,1 triliun dengan pendapatan per kapita mencapai US$29.000.

“Ada 3 negara yang berhasil menghadapi bonus demografi yakni Jepang, Korea Selatan dan China. Mereka saat ini bukan sekedar market, tetapi produsen. Sehingga kita harus membangun mental yang kalau melihat barang bukan kepingin beli, tetapi kepingin membuat, seperti yang dilakukan China, bahkan sampai meniru barang, dan selanjutnya dikembangkan,” terangnya.

Tidak hanya itu, Jepang mulai memanfaatkan bonus demografi pada 1950 dengan salah satu produk otomotifnya seperti Toyota Kijang, kemudian China pada 1990 yang mulai banyak memproduksi barang manufaktur, serta Korea Selatan pada 1970 mulai memanfaatkan bonus demografinya di sektor otomotif, teknologi juga industri kreatif perfilman yang kini dikenal dengan drama korea, juga gadget Samsungnya.

“Untuk itu, kita harus betul-betul bisa melihat pengalaman negara lain yang mengutamakan bonus demografi,” jelas Emil.

Sedangkan Generasi Emas 2045 harus bisa menjawab dengan menjadi produsen dan konsumen dari ekonomi kreatif, dari karya yang dibuat dengan melampaui keterbatasan. Di sektor perdagangan, lalu bukan barang sendiri yang dijual, maka kita akan dibanjiri impor, kita akan mengalami kebocoran perekonomian, dan kita tidak akan bisa menukar mata uang kita dengan mata uang asing karena tidak punya ekspor.

“Selain barang, sektor lain yang bisa dikembangkan adalah karya kreatif digital yang memiliki nilai lebih. Contohnya sebuah lukisan dulu dibuat dengan kain kanvas, cat dan barang lainnya, tetapi melalui teknologi digital sudah bisa melukis sehingga menghasilkan produk digital,” tandas Emil. (hms/lis)