Caption Foto : Menteri Desa dan Gubernur Khofifah saat berangkatkan transmigran asal Jatim

mediapetisi.net – Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Menteri Desa, Pembangunan Daerah dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar,memberangkatkan 98 Kepala Keluarga (KK) asal Jatim untuk mengikuti program transmigran dengan tujuan Lemban Tongoa, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, lalu Ramona, Kabupaten Muna dan Watutinawu, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

Khofifah dan Mendes Halim memberangkatkan sekitar 121 jiwa dari beberapa daerah di Jatim, dan nanti mereka akan difasilitasi dan didampingi selama lima tahun sebelum dilepas ke daerah tujuan transmigrasi mereka.

“Insya Allah sudah siap semua di sana rumah dan segala sesuatunya, jaminan hidup selama satu tahun dan untuk kurun waktu dua bulan pertama kita menempatkan personil dari kementerian untuk melakukan pendampingan. Jadi tidak kita lepas begitu saja,” kata Mendes Halim setelah pemberangkatan transmigran di gedung Negara Grahadi. Senin (17/10/2022).

Selain pendampingan, para transmigran ini juga mendapatkan peralatan untuk bekerja di daerah tujuan seperti hand tractor, genset hingga bibit tanaman yang dibawa dari Jawa Timur.

“Sesuai dengan kondisi di daerah, jadi ada yang sawit ada yang padi, ada yang perkebunan juga sesuai dengan kondisi lokal. Jadi yang pasti ini bukan pemukiman baru, ini manfaatkan lahan yang masih di pemukiman yang sudah ada,” terang Halim.

Di tempat yang sama, Khofifah berpesan pada para transmigran untuk melanjutkan perjuangan kehidupan yang lebih baik ke depannya karena tak menutup kemungkinan anak mereka bisa menjadi menteri atau tokoh masyarakat.

“Tadi saya cerita ke pak Menteri bahwa di Merauke ada transmigran yang sukses ada yang pimpinan DPRD di Merauke, ada yang Wakil Bupati. Mudah-mudahan panjenengan semua juga putra-putrinya sukses atau mungkin bahkan panjenengan bisa meniti karir sukses sebagai legislatif, bisa meniti karir sukses atau mungkin ikut kontestasi sebagai Bupati atau Wali Kota di tempat yang dituju,” kata Khofifah.

Salah satu peserta transmigran seperti Siswanto asal Kediri, dirinya mengikuti program ini atas inisiatif dirinya untuk mengubah nasibnya agar lebih baik.

“Ya istilahnya untuk merubah nasib, maksudnya nasib ya kita mau jadi petani yang sukses. Ya begitu aja,” tukas Siswanto sebelum menaiki bus. (lis)