Pandemi COVID-19 memberikan dampak pada setiap bidang kehidupan tidak terkecuali bidang pendidikan. Semua negara terdampak telah berupaya membuat kebijakan terbaiknya dalam menjaga kelanggengan layanan pendidikan. Selain merubah kebiasaan sehari-hari, kemunculan virus ini merubah sistem pembelajaran yang tentu saja menjadi tantangan bagi setiap sekolah. Beberapa negara menerapkan sistem lockdown dengan harapan untuk meminimalisasi dampak yang lebih parah dan menghentikan penyebaran virus ini. Mona (2020) “untuk melakukan upaya pencegahan penyebaran virus COVID-19 dapat dilakukan dengan melakukan social distancing dan isolasi diri”.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Makarim, mengambil sejumlah kebijakan untuk menghadapi pembelajaran di saat pandemi. Salah satu Kebijakan tersebut di antaranya adalah penetapan pembelajaran daring adalah kebijakan yang paling terkenal menuai pro dan kontra di masyarakat. Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tetapi melalui platform yang telah tersedia. Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online, komunikasi juga dilakukan secara online, dan tes juga dilaksanakan secara online dengan beberapa aplikasi, seperti Google Classroom, Google Meet, dan Zoom.
Perubahan mendadak dari metode tatap muka di ruang kelas menjadi pembelajaran jarak jauh di rumah juga menunjukkan kebutuhan peningkatan kapasitas guru. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa kompetensi informasi, komunikasi, dan teknologi (ICT) guru-guru Indonesia tidak tersebar merata di seluruh wilayah (Widodo & Riandi, 2013 dikutip dari Koh et al, 2018). Terlebih lagi, ada kesenjangan kualitas pendidikan di seluruh wilayah di Indonesia, terutama antara Jawa dan luar Jawa, dan di antara kondisi-kondisi sosio-ekonomi (Azzizah, 2015; Muttaqin 2018). Akses internet yang tidak merata, kesenjangan kualifikasi guru, dan kualitas pendidikan, serta kurangnya keterampilan ICT menjadi kerentanan dalam inisiatif pembelajaran jarak jauh di Indonesia.
Pembelajaran jarak jauh telah menjadi hambatan yang dirasakan paling luas di sektor pendidikan bahkan sebelum pandemi, namun krisis yang berlangsung saat ini mempercepat adopsi pelaksanaannya secara signifikan. Penting untuk mengikutsertakan keterampilan pembelajaran jarak jauh dalam program pelatihan guru-guru di masa yang akan datang. Untuk kesuksesan adopsi pembelajaran jarak jauh, guru perlu untuk tidak hanya memiliki keterampilan teknologi dasar (seperti menggunakan komputer dan tersambung ke internet), tetapi juga pengetahuan untuk menggunakan perangkat rekaman dan perangkat lunaknya, serta metode untuk menyampaikan pelajaran tanpa interaksi tatap muka. Keterampilan tersebut akan diperlukan ketika akan menggunakan platform belajar daring di Indonesia.
Pembelajaran jarak jauh yang dilakukan guru lewat media online seperti Whatsapp, Google Meet, Google Form dan jenis lainnya. Namun demikian sistem ini perlu desain dan teknik pembelajaran yang khusus agar dapat diterapkan. Evaluasi kebijakan perlu dilakukan untuk mengevaluasi sistem pembelajaran jarak jauh yang selama ini dilaksanakan di sekolah pada semua jenjang pendidikan. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan penulis, diperoleh gambaran bahwa pembelajaran jarak jauh dinilai belum efektif dan maksimal apabila diterapkan pada sekolah yang infrastrukturnya belum memadai. Hal ini dikarenakan pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi memerlukan pendekatan yang berbeda dalam hal perencanaan, pelaksana dan evaluasinya. Pelaksanaan pembelajaran jarak jauh, peserta didik membutuhkan perhatian khusus, terutama sarana prasarana yang digunakan, jaringan internet yang memadai dan motivasi diri agar dapat mengikuti proses pembelajaran yang bersifat mandiri.
Kendala-kendala itu menjadi catatan penting dari dunia pendidikan kita yang harus mengejar pembelajaran daring secara cepat. Padahal, secara teknis dan sistem belum semuanya siap. Selama ini pembelajaran online hanya sebagai konsep, sebagai perangkat teknis, belum sebagai cara berpikir, sebagai paradigma pembelajaran. Padahal, pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani siswa dengan tugas yang bertumpuk setiap hari. Pembelajaran secara online harusnya mendorong siswa menjadi kreatif mengakses sebanyak mungkin sumber pengetahuan, menghasilkan karya, mengasah wawasan dan ujungnya membentuk siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Ada beberapa langkah yang dapat menjadi renungan bersama dalam perbaikan sistem pendidikan kita khususnya terkait pembelajaran daring.
Diskusi
Pandemi Covid-19 memaksa masyarakat dunia mendefinisikan makna hidup, tujuan pembelajaran dan hakikat kemanusiaan. Persebaran virus Corona yang menjadi krisis besar manusia modern, memaksa kita untuk sejenak bernafas, berhenti dari pusaran sistem, serta melihat kembali kehidupan, keluarga, dan lingkungan sosial dalam arti yang sebenarnya. Manusia dipaksa ‘berhenti’ dari rutinitasnya, untuk memaknai apa yang sebenarnya dicari dari kehidupan. Pandemi Covid-19 memaksa kebijakan social distancing, atau di Indonesia lebih dikenalkan sebagai physical distancing (menjaga jarak fisik) untuk meminimalisir persebaran Covid-19. Jadi, kebijakan ini diupayakan untuk memperlambat laju persebaran virus Corona di tengah masyarakat. Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) merespon dengan kebijakan belajar dari rumah, melalui pembelajaran daring dan disusul peniadaan Ujian Nasional untuk tahun ini.
Persebaran virus Corona yang massif di berbagai negara, memaksa kita untuk melihat kenyataan bahwa dunia sedang berubah. Sampai 1 April 2020, UNESCO mencatat setidaknya 1,5 milyar anak usia sekolah yang terdamapk Covid 19 di 188 negara termasuk 60 jutaan diantaranya ada di negara kita. Pemberlakuan kebijakan physical distancing yang kemudian menjadi dasar pelaksanaan belajar dari rumah, dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berlaku secara tiba-tiba, tidak jarang membuat pendidik dan siswa kaget termasuk orang tua bahkan semua orang yang berada dalam rumah. Namun, pembelajaran daring yang berlangsung sebagai kejutan dari pandemi Covid-19, membuat kaget hampir di semua lini, dari kabupaten/kota, provinsi, pusat bahkan dunia internasional.
Selama ini pembelajaran online hanya sebagai konsep, sebagai perangkat teknis, belum sebagai cara berpikir, sebagai paradigma pembelajaran. Padahal, pembelajaran online bukan metode untuk mengubah belajar tatap muka dengan aplikasi digital, bukan pula membebani siswa dengan tugas yang bertumpuk setiap hari. Sebagai ujung tombak di level paling bawah suatu lembaga pendidikan, kepala sekolah dituntut untuk membuat keputusan cepat dalam merespon surat edaran Menteri Pendidikan dan Kebudayaan yang mengharuskan sekolah untuk memberlakukan pembelajaran dari rumah. Sementara, orang tua murid merasa stress ketika mendampingi proses pembelajaran dengan tugas-tugas, di samping harus memikirkan keberlangsungan hidup dan pekerjaan masing-masing di tengah krisis.
PJJ memaksa Guru, siswa dan orang tua mampu bekerja sama untuk bisa melaksanakan pembelajaran secara daring. Dengan demikian para guru harus mampu menguasai penggunaan teknologi, sehingga mampu menciptakan pembelajaran yang efektif, kreatif dan inovatif meskipun dilaksanakan secara daring. Guru mengikuti berbagai pelatihan online yang mampu membantu penguasaan teknologi sehingga dapat membantu proses pembelajaran daring. Selain itu, kondisi ini juga mengharuskan siswa untuk belajar memahami penggunaan teknologi sehingga pembelajaran dapat berjalan dengan lancar. Akan tetapi, pandemi covid-19 ini juga membawa dampak yang cukup fatal, karena banyak pihak yang belum siap melaksanakan PJJ, misalnya guru merasa kaget karena harus mengubah sistem pembelajaran, siswa yang terbata-bata karena mengerjakan tumpukan tugas, dan orang tua yang menjadi stress ketika mendampingi anak-anak belajar dan mengerjakan tugas.
Pembelajaran dari rumah memungkinkan sebagian orang tua menjadi stres dalam menghadapi perilaku anak yang susah untuk diatur, bahkan tak jarang ada orang tua yang memberikan pendampingan dengan cara keras, mengancam, memaksakan kehendak, atau bahkan memukul anak jika tidak mengikuti. Pola asuh yang demikian akan membentuk anak menjadi penakut, pemalu, pendiam, dan sering melanggar aturan. Oleh sebab itu, orang tua seyogyanya mendidik anaknya dengan pendekatan kasih sayang, sabar, menerima anak apa adanya, tidak memaksakan kehendak, dan dilatih untuk saling menghargai, dengan demikian terciptanya suasana belajar yang menyenangkan sehingga anak merasa seperti halnya sedang melaksanakan pembelajaran disekolah.
Di tengah pandemi Covid-19 ini, sistem pendidikan kita harus siap melakukan lompatan untuk melakukan transformasi pembelajaran daring bagi semua siswa dan oleh semua guru. Kita memasuki era baru untuk membangun kreatifitas, mengasah skill siswa, dan peningkatan kualitas diri dengan perubahan sistem, cara pandang dan pola interaksi kita dengan teknologi. Teknologi memang bagai dua mata pisau yang masing-masing memberikan peran yang sama besarnya yaitu sisi positif dan negative dalam perubahan peradaban manusia. Khusus dalam bidang pendidikan,literasi teknologi perlu dipelajari oleh seluruh tenaga pendidik, terutama dalam pemanfaatnya sebagai media pembelajaran daring yang saat ini sedang berlangsung.
Pendidikan anak sejatinya adalah tanggung jawab mutlak orang tua. Kegiatan Pembelajaran Daring memaksa orang tua untuk ikut terlibat langsung dalam proses pembelajaran anak-anaknya, dan itu menjadikan pengalaman yang mereka rasakan saat mendampingi. Kegiatan Pembelajaran Daring tidak akan dapat berlangsung tanpa ada dukungan dari orang tua. Dalam perjalannya banyak terdengar kesan pengalaman yang positif atau negative dari orang tua saat mendampingi anak-anaknya belajar. Disini orang tua harus pro aktif menjalin komunikasi baik itu dengan si anak maupun dengan pihak sekolah. Tak jarang ada orang tua yang jadi emosi karena menghadapi anaknya yang ternyata susah dalam menerima suatu pelajaran, sehingga banyak orang tua yang menginginkan agar anak-anak bias kembali belajara di sekolah.
Media untuk mendapat ilmu pengetahuan saat ini sangat banyak. Dengan menggunakan internet siswa dapat mencari ilmu pengetahuan dan belajar, bisa melalui aplikasi Ruang Guru, Ilmupedia, Kelas Pintar, Zenius, Quipper, Sekolahmu, Geogle Indonesia dll. Pembelajaran daring telah membuat banyak guru/pendidik tersadar bahwa perkembangan teknologi telah menjadikan guru berperan sebagai pentransfer pengetahuan, yang suatu saat akan mungkin tergantikan oleh mesin.
Dalam keadaan yang seperti ini, dimana teknologi yang terus berkembang pesat jika seorang guru tidak ikut berkembang dalam hal penguasaan teknologi maka tidak menutup kemungkinan akan jauh tertinggal oleh anak didiknya. Pembelajaran jarak jauh yang saat ini tengah berlangsung sebagai dampak dari wabah covid-19 seharusnya menjadi motivasi bagi guru untuk bergerak maju dan terus maju. Meskipun “ruh” nya seorang guru/pendidik tidak dapat tergantikan oleh guru mesin atau guru dalam dunia maya. Karena kehadiran seorang guru yang nyata tetap dinantikan oleh anak-anak didiknya. Dampak pendemi covid-19 bagi sekolah adalah memberikan pengalaman berharga, betapa sekolah yang selama ini sebagai sentral pendidikan menjadi seolah tidak berarti dengan dihapuskannya UN/USBN, dilarangnya semua kegiatan yang mengumpulkan orang banyak dan dibatalkannya program penting lainnya yang sudah direncanakan di awal tahun.
Meskipun kegiatan dan program sekolah banyak yang tidak dapat terlaksana, namun fungsi sekolah sebagai lembaga pendidikan tidak dapat dihilangkan begitu saja. Pelayanan kepada masyarakat harus tetap berlangsung, dan sekolah tetap menjadi pengontrol kelangsungan Kegiatan Pembelajaran Daring yang dilaksanakan oleh guru. Situasi saat ini menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan, dimana peran sekolah menjadi lebih dinamis, bukan lagi sebagai tempat berkumpul bagi guru dan siswa yang akan melaksanakan Kegiatan PBM. Peran permerintah sangat penting dalam menentukan kebijakan yang berkaitan dengan pendidikan baik di tingkat pusat maupun di tingkat daerah.
Dalam 2 tahun terakhir proses belajar – mengajar berubah secara signifikan akibat adanya pandemi covid-19. Sebelum adanya pandemi murid dan guru dapat belajar dengan cara tatap muka sedangkan namun kini proses tatap muka mulai dibatasi bahkan dihentikan. Hal ini pula yang mengakibatkan adanya dorongan kepada pemerintah di Indonesia untuk membuat inovasi di bidang pendidikan yang lebih cocok pada masa pandemi. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan meluncurkan inovasi dan memberikan bermacam perbaikan sistem pembelajaran, di antaranya, kebijakan penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah dan penayangan program Belajar dari Rumah yang disiarkan di TVRI bagi guru-murid dengan keterbatasan internet. Murid bisa belajar secara daring dengan pendampingan guru, sementara orang tua bisa membantu memonitor perkembangan belajar anak. Pembelajaran daring merupakan pembelajaran yang dilakukan tanpa melakukan tatap muka, tetapi melalui platform yang telah tersedia. Segala bentuk materi pelajaran didistribusikan secara online, komunikasi juga dilakukan secara online, dan tes juga dilaksanakan secara online.
Inovasi pendidikan kini menjadi salah satu kunci penting yang harus selalu dicari agar dunia pendidikan dapat terus berkembang, dan berjalan efektif menyesuaikan perkembangan zaman dan kondisi lingkungan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi atau apapun. Kolaborasi antara inovasi dan teknologi dapat sangat membantu untuk belajar lebih banyak dan lebih baik tentang banyak hal. Salah satu komponen yang paling sangat berperan dalam memberikan inovasi pendidikan di indonesia adalah pemerintah. Hal ini akan lebih mudah dalam penerapan inovasi pendidikan, karena setiap instansi sekolah akan mengikuti setiap arahan dan keputusan dari pemerintah pusat. Cara ini bisa juga kita sebut dengan top down inovation, dimana keputusan pemerintah adalah hal yang mutlak dan harus diikuti semua instansi. Demi memecahkan masalah pendidikan yang ada di lingkungannya, jajaran petinggi sekolah terkadang mencari cara agar permasalahan sekolah mereka bisa terselesaikan, tanpa harus menunggu keputusan dari pemerintah. Seperti dalam hal memberikan materi pelajaran, tak sedikit instansi sekolah mengubah metode mereka dalam mengajar tentunya tetap dengan tujuan yang sama dan tidak menyalahi aturan pemerintah.

Kesimpulan
Dampak pendemi virus Covid-19 kini telah merambah ke dunia pendidikan. Pemerintah Pusat hingga Pemerintah Daerah mengeluarkan kebijakan untuk meliburkan sementara seluruh lembaga pendidikan. Himbauan meliburkan sementara lembaga pendidikan tetap harus disertai dengan keberlangsungan layanan pendidikan yang salah satunya adalah layanan Kegiatan Pembelajaran yang lebih dikenal dengan Pembelajaran Daring atau belajar dari rumah, dan layanan administrasi bagi masyarakat.
Dalam pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran Daring atau Belajar Dari Rumah dibutuhkan dukungan dari semua pihak mulai dari orang tua, guru/pendidik, sekolah/Lembaga Pendidikan hingga Pemerintah. Adanya perubahan pembelajaran dari Manual atau tatap muka menjadi Pembelajaran Daring atau Jarak Jauh, tetap tidak akan mampu menghapuskan fungsi utama pendidikan yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak, kepribadian dan serta peradaban yang bermartabat, yang siap mencetak generasi yang tangguh, yang sehat dan cerdas dan siap mengisi kemerdekaan.

Referensi

A. Rusdiana dan Nasihudin, Manajemen Pembelajaran dalam upaya memutus mata rantai covid-19 (studi pada jurusan pendidikan guru madrasah ibtidaiyah fakultas tarbiyah IAILM Suryalaya kopertais wilayah II Jawa Barat), (Bandung: Pusat Penelitian dan Penerbitan LPPM UIN Sunan Gunung Djati Bandung, 2020), 2
Contagious (Kasus Penyebaran Virus Corona di indonesia)”, JSHT, 2:2 (Januari-Juni, 2020), 117
Hilna Putria dkk., “Analisis Proses Pembelajaran Dalam Jaringan (DARING) Masa
Indonesia, 7:1, (Maret, 2020), 45
Nailul Mona, “Konsep Isolasi Dalam Jaringan Sosial Untuk Meminimalisasi Efek
Pandemi Covid-19 pada Guru Sekolah Dasar, JURNAL BASICEDU, 4:4 (2020), 861
Raluca David et. al., “Education during the COVID-19 Crisis” Creative Commons Attribution 4.0 International License (April, 2020)
Rizqon Halal Syah Aji, “Dampak Covid-19 pada Pendidikan di Indonesia: Sekolah,vKeterampilan, dan Proses Pembelajaran”, jurnal SALAM, 7:5 (Jakarta : 2020), 396
Subandi, dkk., Menjaga Marwah Perguruan Tinggi: Dari Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung Untuk Peradaban Bangsa, Narasi Akademik Pengukuhan Guru Besar Uin Sunan Gunung Djati Bandung, (Bandung: CV. Sentra Publikasi Indonesia, 2020), 219

 

 

Profil Penulis

Wardani Dwi Wihastyanang lahir di Jombang, pada 02 Mei 1985. Di usia 36 Tahun telah berhasil menyelesaikan Program Doktor jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Negeri Malang. Berbekal keilmuan di bidang Pendidikan, Bahasa, Sastra dan Learning Management System, sejak tahun 2018 telah dipercaya menjadi reviewer Jurnal Internasional Bereputasi diantaranya: TOJDE, IJELTR, Elsivier Journals, HRPUB, ARCPub. Selain itu juga menjadi praktisi pendidikan di kabupaten Jombang sebagai salah satu narasumber bidang Teknologi Pendidikan. Beberapa jurnal bereputasi telah dihasilkan dan telah diakses baik secara nasional maupun Internasional. Tahun 2015 telah menjadi narasumber dalam pengembangan sistem OJS beberapa Perguruan Tinggi Swasta di Jombang dan Sistem (SLIMS) Digitalisasi Perpustakaan Umum Jombang.