Caption Foto : Peserta pelatihan saat melakukan olahraga Terompah panjang di Alun -alun Jombang

mediapetisi.net – Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Jombang menggelar pelatihan Pelatih Olahraga Tradisional dalam penyelenggaraan, pengembangan dan pemasaran festival olahraga rekreasi dibuka oleh Sekretaris Disporapar Jombang Dra Yulita Purwaningsih, MM. Dihadiri Ketua FORMI Kabupaten Jombang Wiwin Sumrambah dan pelatihan diikuti Guru Olahraga SD dan SMP. Bertempat di Gedung PKK Kabupaten Jombang. Rabu (17/11/2021)

Sekretaris Disporapar Dra Yulita Purwaningsih, MM.,  mewakili Kapala Dinas Drs Bambang Nurwijanto, M.Si menyampaikan pelatihan tersebut melatih guru olahraga untuk menggerakkan olahraga tradisional di Kabupaten Jombang. Diharapkan melalui pelatihan ini bisa menumbuhkembangkan kembali olahraga tradisional yang sudah ada namun belakangan ditinggalkan karena modernisasi. Tanpa meninggalkan dinamika digitalisasi, olahraga tradisional bisa menjadi alternatif manjaga kebugaran jasmani, mengisi waktu luang yang positif dan bisa menjalin interaksi sosial, serta bermanfaat meningkatkan kemampuan motorik.

Guru olahraga yang mendapat materi pelatihan untuk bisa melakukan sosialisasi, mengajak anak muridnya berlatih dan membudayakan olahraga tradisional, bahkan ke depan menjadikan  olahraga tradisional masuk mata pelajaran muatan lokal.

“Secara teknologi belakangan mengalami perkembangan luar biasa, segala sesuatu keperluan kita bisa dilakukan melalui daring (online). Meski demikian, olahraga bagi kita sangatlah penting, yang berfungsi menjaga immune tubuh kita semakin kuat secara fisik. Untuk itu, olahraga perlu kita giatkan. Kedepan olahraga tradisional ada jenjang kompetisi, di tingkat kabupaten, provinsi hingga nasional,” terangnya.

Di tempat yang sama, Kepala Bidang Olahraga Bambang Tedjoatmoko, S.Sos, M.Si selaku Ketua Panitia melaporkan,  pelatihan yang berlangsung dua hari mulai tanggal 16 – 17 November 2021 tersebut diikuti 50 orang guru berasal dari guru SD, SMP, SMA/SMK di Kabupaten Jombang. Sedangkan materi pelatihan terdiri dari 8  jenis olahraga tradisional diantaranya Hadang, Egrang, Terompah panjang, Sumpitan, Dagongan, Gasing, Ketapil, dan Lari Balok. 

“Untuk materi pengetahuan olahraga tradisional akan disampaikan nara sumber I Wayan Sudarman, S.Pd., MM., dan Aji Sutrisno, SE., dari Pengurus KORMI (Komite Olahraga Masyarakat Indonesia) Provinsi Jawa Timur. Hari pertama berlangsung di ruang rapat PKK, Kompleks Pendopo Kabupaten Jombang dan praktik akan dilaksanakan di alun-alun Jombang, pada Rabu 17 November 2021,” jelasnya.

Di tempat yang sama, Wakil Ketua V KORMI Jawa Timur I Wayan Sudarman mengatakan Hadang merupakan olahraga tradisional permainan yang berarti menghadang lawan agar tidak masuk pada area/kamar lainnya. Sementara lawan akan berupaya dengan strategi kelincahan membagi perhatian untuk mencari lengah lawan agar bisa membobol pertahanan, dan masuk kamar/petak yang semula terlarang.

“Hadang tidak menggunakan peralatan apapun, bisa dilakukan di halaman rumah atau tempat yang memadai dengan luas sekitar 15 meter, dibagi dalam petak-petak kamar. Dimainkan secara beregu 8 orang boleh putra-putri, durasi 2 x 15 menit, boleh time out,” ungkapnya.

Sedangkan Egrang menggunakan alat bantu bambu dan olahraga ini cukup popular karena setiap daerah sudah mengenalnya, berjalan diatas egrang pemain berjalan cepat sampai bisa berlari. Manfaat yang dirasakan dari permainan ini akan timbul kegembiraan, kualitas kebugaran diri meningkat dan bisa bersendau gurau, berinteraksi sosial dengan warga setempat.

Terompah Panjang, merupakan olahraga tradisional beregu. Berjalan diatas lempengan kayu relative panjang, dipasang sandat dari karet ban bekas. Olahraga  ini sudah sering dilakukan masyarakat saat peringatan hari kemerdekaan atau kemeriahan lainnya. Mekanisme olahraga ini menjaga kekompakan, kecepatan dan kegembiraan berjalan cepat pada jarak tertentu.

“Sumpitan merupakan olahraga tradisional tersebut mula berkembang dari masyarakat pedalaman Kalimantan dan pulau-pulau lain di Indonesia. Cara bermain olahraga ini dengan meniup anak sumpit menuju sasaran/target dengan jarak tertentu. Awalnya, sumpit sebagai alat berburu, terbuat dari bambau atau kayu yang telah dilubangi, yang dalamnya bisa dilalui anak sumpit. Teknik permainan olahraga tradisional ini nyaris sama dengan pola olahraga prestasi Panahan, membidik target dengan menggunakan busur dan anak panah,” papar Wayan.

Kalau bermain dagongan kebalikan dari bermain tarik tambang karena pada tarik tambang, pemain beregu saling menarik untuk menjatuhkan lawan mendapat kemenangan. Pada dagongan, alat bantu yang digunakan berupa batang bambu dan pemain saling dorong untuk mencari kemenangan. Permainan lari balok, yakni dengan berjalan cepat menginjak dan memindahkan balok sebagai tumpuhan berpijak, yang semula berada dibelakangnya, dipindah ke depan, begitu seterusnya hingga pada jarak yang ditentukan.

Sedangkan bermain Gasing ada alat permainan tradisional terbuat dari kayu, menyerupai jantung pisang bagian bawah. Sifat kompetitif ini mencari kemenangan mengadu ketangkasan dan ketrampilan memutar gasing. Permainan ini banyak dimainkan anak usia 7 – 17 tahun di berbagai daerah di Indonesia, bisa beregu maupun perorangan. Manfaat permainan ini bergaul gembira bersosialsasi  pada usia sebaya.

Untuk Ketapel di Indonesia sering disebut pelinteng atau blandring, banyak digunakan berburu burung atau hewan kecil lainnya. Terbuat dari kayu dan karet ban bekas, atau karet gelang yang bisa melar. Permainan ini untuk membidik sasaran pada jarak terentu.

“Beragam olahraga tradisional ini memiliki jenjang prestasi di ajang Pekan Olahraga Tradisional, tingkat Kabupaten, Provinsi hingga Nasional. Bulan Oktober lalu Porprov Olahraga Tradisional Jawa timur digelar di Kabupaten Pacitan tetapi belum banyak yang ikut dan Kabupaten Jombang sudah hadir menyaksikan,” pungkasnya. (lis)