Caption Foto : dr. Vidya bersama Mulya saat berdialog dipandu Cak Giono

mediapetisi.net – Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jombang menggelar Warung Pojok Kebon Rojo dengan tema “Mencegah Stunting Sejak Dini, Kenali Penyebabnya” yang dipandu oleh Cak Giono dan dimeriahkan oleh duo pelawak Bagas dan Broto. Dihadiri oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan se Kabupaten Jombang dengan nara sumber dr. Vidya Buana Kabid Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dan Mulya S.Kep Ns, MM Kabid. Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada Bappeda Kabupaten Jombang. Bertempat di Aula Besut Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jombang. Rabu (24/3/2021)

Dalam dialog interaktif yang dipandu oleh Cak Giono (Ari Suara Jombang) nara sumber dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang dr. Vidya Buana menyampaikan komitmen Pemerintah Kabupaten Jombang untuk menurunkan kasus Stunting, sangat luar biasa. Pemkab Jombang dalam hal ini Bupati Jombang berkomitmen akan melakukan percepatan menurunkan kasus Stunting dengan melaksanakan beberapa program dan kegiatan diantaranya pencukupan gizi, imunisasi, jambanisasi, kampung KB, program keluarga harapan, posyandu, hingga kampanye makan ikan. Tidak hanya itu, pendampingan terhadap ibu hamil juga dilakukan dan terus berlanjut saat ibu melahirkan hingga anak usia 2 tahun.

“Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun,” terangnya.

Menurut dr. Vidya ada beberapa faktor penyebab stunting diantaranya kurang gizi, sejak anak berada di dalam kandungan. Sebab, sejak di dalam kandungan, anak bisa jadi mengalami masalah kurang gizi. Penyebabnya, adalah karena sang ibu tidak memiliki akses terhadap makanan sehat dan bergizi, sehingga menyebabkan buah hatinya turut kekurangan nutrisi. Selain itu, rendahnya asupan vitamin dan mineral yang dikonsumsi ibu juga bisa ikut mempengaruhi kondisi malnutrisi janin.

Sedangkan kekurangan gizi sejak dalam kandungan bisa menjadi penyebab terbesar kondisi stunting pada anak. Pola Asuh kurang efektif juga menjadi salah satu penyebab stunting pada anak. Pola asuh di sini berkaitan dengan perilaku dan praktik pemberian makanan kepada anak. Bila orang tua tidak memberikan asupan gizi yang baik, maka anak bisa mengalami stunting. Selain itu, faktor ibu yang masa remaja dan kehamilannya kurang nutrisi serta masa laktasi yang kurang baik juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan otak anak, serta pola makan.

“Data tahun 2020 sebanyak 12 ribu anak di Jombang stunting, atau sekitar 16,9 persen. Sedangkan Target nasional 14 persen, kita bertekad telah melakukan langkah penurunan stunting dengan 30 persen melakukan Intervensi spesifik seperti penyediaan vitamin, makanan tambahan, dan lainnya. Sedangkan intervensi sensitif sekitar 70 persen dilakukan oleh sektor non–kesehatan seperti penyediaan sarana air bersih, ketahanan pangan, jaminan kesehatan, pengentasan kemiskinan dan sebagainya,” jelas dr. Vidya.

Sementara itu, nara sumber dari Kabid. Pemerintahan dan Pembangunan Manusia pada Bappeda Kabupaten Jombang Mulya S.Kep NS, MM mengungkapkan pelaksanaan upaya konvergensi percepatan pencegahan stunting dilakukan di kabupaten Jombang mulai dari tahap perencanaan dan penganggaran, pelaksanaan, hingga pemantauan dan evaluasi. Bappeda sudah siapkan regulasi yang mendasari percepatan Stunting, melaksanakan 8 aksi percepatan, penyelarasan program di OPD dan penganggarannya.

Ada 8 (delapan) tahapan aksi konvergensi percepatan pencegahan stunting diantaranya aksi melakukan identifikasi sebaran stunting, ketersediaan program, dan kendala dalam pelaksanaan integrasi intervensi gizi. Aksi menyusun rencana kegiatan untuk meningkatkan pelaksanaan integrasi intervensi gizi, aksi menyelenggarakan rembuk stunting, aksi memberikan kepastian hukum bagi desa untuk menjalankan peran dan kewenangan desa dalam intervensi gizi terintegrasi. Selanjutnya aksi memastikan tersedianya dan berfungsinya kader yang membantu pemerintah desa dalam pelaksanaan intervensi gizi terintegrasi di tingkat desa. Aksi meningkatkan sistem pengelolaan data stunting dan cakupan intervensi, aksi melakukan pengukuran pertumbuhan dan perkembangan anak balita dan publikasi angka stunting dan aksi melakukan review kinerja pelaksanaan program dan kegiatan terkait penurunan stunting selama satu tahun terakhir.

“Untuk itu, kami mengajak semua peran masyarakat dan OPD di Kabupaten Jombang sesuai dengan kemampuan masing-masing apa yang bisa disumbangkan kepada pemerintah dalam rangka menurunkan stunting. Terutama untuk Ibu – ibu tim penggerak PKK mari mengawal anggaran yang sudah ada di anggaran dana desa supaya tepat sasaran dan manfaatnya betul – betul mengena pada masyarakat dan yang paling penting bisa menuntaskan stunting di Jombang tahun 2024 bisa melampaui nasional yang kurang lebih dari 14%,” pungkas Mulya. (lis)