Caption Foto : Suasana saat Bimtek

mediapetisi.net – bertempat di Aula Hotel Yusro diselenggarakan 

mediapetisi.net – Bimtek Peningkatan Kapasitas Petani dan Penyuluh Pertanian oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) oleh Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu dibuka oleh Anggota DPR RI Komisi IV, Drs. H. Guntur Sasono, M.Si. sekaligus sebagai Fasilitator/Narasumber. Bertempat di Hotel Yusro Jombang. Jum’at (12/3/2021)

Anggota DPR RI Komisi IV, Drs. H. Guntur Sasono, M.Si menyampaikan tujuan bimtek tersebut untuk memberikan wawasan terkait dengan pemanfaatan limbah ternak menjadi pupuk organik kepada petani dan penyuluh pertanian. Sehingga kesejahteraan masyarakat tidak bisa diangkat hanya satu pihak. 

“Kita harus bergandengan tangan bahu membahu untuk bersama sama untuk saling mengisi kegiatan dalam rangka peningkatan SDM dan tentunya ini semua agar masyarakat terutama petani dan peternak bisa mandiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BBPP Batu Dr. Wasis Sarjono., S.Pt.,M.Si. mengatakan bahwa Kementrian Pertanian Republik Indonesia tentunya terus mensuport petani baik melaui Alsintan dan pelatihan pelatihan untuk peningkatan SDM. Selain itu, dalam rangka meningkatkan keterampilan petani dan petugas perlu dilaksanakan kegiatan-kegiatan pelatihan, katanya.

Mewakili Kepala Dinas Pertania Jombang, Ir. Supriyanto selaku Sekretaris Dinas Pertanian menyatakan Bimtek tersebut sangat tepat dengan kondisi saat ini di Kabupaten Jombang. Sesuai dengan program utama Dinas Pertanian Kabupaten Jombang yaitu mengembalikan kesuburan tanah dan pengendalian OPT guna meningkatkan produktifitas pertanian dan kesejahteraan petani. 

“Berdasarkan hasil analisis laboratorium tanah Dinas Pertanian, dari sampel yang diambil dari berbagai lokasi di seluruh wilayah Jombang diketahui bahwa kandungan Bahan Organik tanah pertanian di Jombang sangat rendah. Dikatakan normal jika kandungan BO tanah 3-5%, namun nyatanya kandungan BO tanah hasil analisis laboratorium menunjukkan nilai BO rata-rata sekitar 1,2%. Sehingga mau tidak mau kita harus memulai dari sekarang untuk menambahkan BO tanah jika tanah kita ingin subur kembali,” urainya.

Peserta hadir sebanyak 100 orang, terdiri dari pengurus Poktan,Gapoktan,KSTM penerima bantuan program Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) tahun 2020 dan Penyuluh Pertanian Lapangan dari sejumlah besar wilayah Kabupaten Jombang. Tetap dengan disiplin protokol kesehatan pencegahan Covid-19 sehingga seluruh peserta memakai masker, mencuci tangan/hand sanitizer dan menjaga jarak antar peserta dalam ruangan, ujar Supriyanto.

Dalam kesempatan ini, Ir. Teguh Wibowo Divisi Pengolahan Limbah sebagai narasumber menjelaskan pupuk organik adalah pupuk yang tersusun dari materi makhluk hidup, seperti pelapukan sisa-sisa tanaman, hewan dan manusia yang telah melalui proses rekayasa dapat berbentuk padat atau cair dan dapat diperkaya dengan mineral dan atau mikroba bermanfaat memperkaya hara,bahan organik tanah dan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. 

“Kompos adalah hasil penguraian dari campuran bahan organik yang dapat dipercepat oleh populasi berbagai macam mikroba dalam kondisi lingkungan yang hangat, lembab dan aerobic atau anaerobic. Sedangkan pengomposan adalah proses dimana bahan organik mengalami penguraian secara biologis khususnya oleh mikroba yang memanfaatkan bahan organik sebagai sumber energi,” jelasnya.  

Kabupaten Jombang memiliki potensi limbah ternak yang potensial, terutama kotoran sapi. Sapi perah yang tersentral di Wonosalam dan sapi potong yang tersebar diseluruh wilayah Jombang adalah potensi penghasil pupuk organik yang luar biasa besar. Secara umum jumlah kotoran yang dikeluarkan seekor ternak adalah 12% dari bobot tubuhnya. Jika rata-rata sapi dewasa bobot tubuhnya adalah 400kg maka setiap ekor sapi memiliki potensi untuk menghasilkan kotoran sebanyak kurang lebih 50kg, jika tidak diolah dan dikelola dengan baik akan menimbulkan masalah pencemaran lingkungan.

“Saya minta, para peserta diminta menyusun rencana tindak lanjut dari pelatihan ini, dengan berbagai fasilitas yang telah diterima dari pemerintah. Diharapkan para peserta mampu menerapkan ilmu dan berperan aktif dalam memproduksi dan menyediakan pupuk organik bagi petani di sekitarnya. Proses pembuatan pupuk organik yang baik dan benar akan menentukan kualitas produk yang dihasilkan,” pungkas Teguh. (Zul)