Caption Foto : Pemimpin Cabang Bank Jatim Jombang Hanif Julhamsyah saat menyerahkan cinderamata ke Pj Bupati Teguh Narutomo yang didampingi Kajari Agus Chandra dan Sekda Agus Purnomo
mediapetisi.net – PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Timur TBK (Bank Jatim) Cabang Jombang sukses menyelenggarakan ngopi bareng dan pagelaran wayang kulit di kantor Bank Jatim Cabang Jombang JI KH Wahid Hasyim, Jumat (2/8) malam.
Hadir dalam kegiatan tersebut, Pj Bupati Jombang Teguh Narutomo, Kajari Jombang Agus Chandra, Pemimpin Cabang Bank Jatim Jombang Hanif Julhamsyah, Sekdakab Agus Purnomo, Anggota DPRD Subur, Wakil Bupati Jombang periode 2008-2013 Widjono Soeparno, Perwakilan Polres Jombang, Asisten, Staf Ahli, serta jajaran kepala OPD di Lingkup Pemkab Jombang dan instansi terkait.
Pemimpin Cabang Bank Jatim Jombang Hanif Julhamsyah menyampaikan ngopi bareng dan pagelaran Wayang Kulit dalang Ki Anom setiaji dengan lakon Babat alas wonomarto dalam rangka untuk memeriahkan peringatan HUT Republik Indonesia ke-79 dan HUT Bank Jatim ke- 63.
“Alhamdulillah kita dapat bersilaturahmi dalam kegiatan ngopi bareng bersama jajaran forkopimda dan kepala organisasi perangkat daerah,” ungkapnya.
Bank Jatim merupakan bank yang sahamnya dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan seluruh Pemerintah Kota/Pemerintah Kabupaten di seluruh Jawa Timur. Bank Jatim kini menjadi perusahaan terbuka sejak 2012 sehingga sahamnya bisa dimiliki oleh masyarakat.
Saya berharap, melalui ngopi bareng dan pagelaran wayang tersebut silahturahmi, kerja sama yang sudah baik bersama seluruh stakeholder dapat dilanjutkan dan ditingkatkan. Kita tampilkan hiburan wayang kulit karena wayang kulit sebagai sarana hiburan, tontonan bagi masyarakat yang bisa digunakan sebagai sarana memahami suatu tradisi pendekatan kepada masyarakat,” harapnya.
Sementara itu, Kepala Kejaksaan Negeri Jombang Agus Chandra mendukung pagelaran wayang kulit dalam mengembangkan warisan budaya di Jombang. Apalagi manfaat wayang mengandung nilai Filosofis karena memiliki bagian yang saling berkaitan antara satu dengan yang lain. Setiap bagian menggambarkan tahapan tertentu dari kehidupan manusia. “Jadi, pertunjukan wayang memang sangat merepresentasikan nilai filosofis budaya Indonesia,” ujarnya.
Selain itu, wayang juga mangandung nilai Religius karena memiliki dimensi spiritual yang kuat. Nilai religius ini muncul sejak zaman Kerajaan Demak. Waktu itu, pertunjukan wayang digunakan untuk menyebarkan agama Islam serta nilai-nilai atau ajaran di dalamnya. Ada juga nilai pendidikan dalam pertunjukan wayang, seperti etika, moral, budi pekerti, politik, hingga sosial dan kewarganegaraan. Manfaat di bidang pendidikan ini terkandung di dalam setiap bagian dari cerita pertunjukan wayang.
“Tidak hanya itu, salah satu nilai khas dari wayang adalah nilai kepahlawanan dari tokoh-tokohnya. Kepahlawanan dalam kisah Ramayana dan Mahabarata bermanfaat untuk memberikan berbagai pesan patriotisme sebagai pendidikan budaya bagi generasi muda. Sedangkan nilai Estetika, wayang merupakan seni yang menggabungkan kreativitas berbagai bidang. Nilai estetikanya juga banyak terkandung di dalam cerita. Itulah sebabnya, pertunjukan wayang menjadi warisan orisinal dari negara Indonesia,” pungkas Kajari Agus. (yn)










