Caption Foto : Narasumber Psikolog CH. Widayanti, S.Psi., M.Si., M.Psi. saat pemaparan

mediapetisi.net – Komite Keperawatan berkolaborasi dengan Komite Nakesla RSUD Jombang menyelenggarakan Mini Simposium bertema “Mewujudkan Anak Sehat Mental dan Jia Melalui Layanan Kesehatan yang Peka Psikoogis”. Kamis (16/10/2025)

Kegiatan yang berlangsung di Ruang Minilab RSUD Jombang ini diikuti oleh perwakilan perawat dari ruang bayi dan ruang anak.

Direktur RSUD Jombang dr. Pudji Umbaran, M.KP. dalam pesannya menyampaikan bahwa kesehatan anak tidak hanya diukur dari aspek fisik semata, tetapi juga keseimbangan mental dan emosionalnya.

Caption Foto : Narasumber dan peserta Mini Simposiom

“Kami berkomitmen untuk membangun layanan kesehatan yang holistik, di mana setiap tenaga kesehatan memiliki kepekaan terhadap aspek psikologis anak. RSUD Jombang terus berupaya menciptakan lingkungan pelayanan yang ramah anak, menenangkan, dan edukatif, sehingga setiap anak yang datang untuk berobat juga mendapatkan dukungan bagi tumbuh kembang mentalnya,” ujar dr. Pudji.

Dalam kesempatan tersebut, Psikolog CH. Widayanti, S.Psi., M.Si., M.Psi. menegaskan bahwa anak bukan sekadar “pasien kecil”, melainkan individu dengan kebutuhan fisik, emosional, dan psikologis yang khas.

“Pemahaman psikologi anak dan keterampilan komunikasi empatik sangat penting dimiliki tenaga kesehatan agar layanan yang diberikan mampu mendukung tumbuh kembang mental dan emosional anak secara optimal,” ungkap Widayanti.

Lebih lanjut, Widayanti menjelaskan empat tahap perkembangan kognitif menurut Jean Piaget, yakni:
– Sensorimotor (0–2 tahun): Anak belajar melalui indra dan gerakan, mulai memahami sebab-akibat serta keberadaan objek melalui pengalaman langsung.
– Praoperasional (2–7 tahun): Anak mulai berpikir simbolis dan menggunakan bahasa, namun masih egosentris dan berpikir konkret.
– Operasional Konkret (7–11 tahun): Anak mampu berpikir logis terhadap peristiwa nyata, memahami konsep konservasi, dan mulai mampu mengklasifikasi objek.
– Operasional Formal (11 tahun ke atas): Remaja mulai berpikir abstrak dan hipotetis, serta mengembangkan kemampuan penalaran ilmiah.

Selain aspek kognitif, Widayanti juga menyoroti pentingnya pemahaman emosi dan sosial anak dalam konteks pelayanan kesehatan. “Rasa takut, marah, sedih, dan cemas dapat memengaruhi perilaku anak saat menjalani prosedur medis. Karena itu, tenaga kesehatan harus responsif terhadap ekspresi emosi anak, menghindari pemaksaan, serta memberikan pujian dan penguatan positif,” jelasnya.

Menurut Widayanti, faktor psikologis yang memengaruhi kesehatan anak mencakup pengalaman trauma medis, kecemasan terhadap prosedur, keterikatan dengan orang tua atau pengasuh, serta kondisi lingkungan fisik dan sosial di fasilitas kesehatan, seperti warna ruangan, suara, dan cara interaksi staf.

Dalam membangun komunikasi empatik, Widayanti menekankan beberapa prinsip dasar: dengarkan anak dengan penuh perhatian, validasi perasaannya (misalnya, “Saya tahu kamu takut, itu wajar.”), gunakan bahasa sesuai usia anak, tunjukkan ekspresi wajah dan gestur yang menenangkan, berikan pilihan sederhana agar anak merasa memiliki kendali.

“Setiap anak unik. Pahami tahap perkembangan mereka dan gunakan komunikasi empatik untuk menciptakan rasa aman dan nyaman. Libatkan orang tua atau caregiver dalam proses pelayanan agar kepatuhan meningkat, trauma berkurang, dan kesehatan mental anak lebih terjaga,” pungkasnya.