Caption Foto : Pengasuh PP Hamalatul Qur’an bersama para undangan dan santri terbaik
mediapetisi.net – Wisuda Hafidz XIII Pondok Pesantren Hamalatul Qur’an Jogoroto Jombang Tahun 2022 oleh Pengasuh PP. Hamalatul Qur’an KH. Ainul Yaqin, SQ. Dihadiri Pengacara H. Achmad Rifai, KH. Moh. Yusron, H. Warsubi, Waka Polres Jombang dan undangan yang hadir. Bertempat di Ponpes Hamalatul Qur’an Jogoroto Jombang. Senin (30/5/2022)
Pengasuh PP Hamalatul Qur’an Jogoroto KH. Ainul Yaqin menyampaikan Pesantren dilihat dalam perkembangan dari masa ke masa yang bertitik pada poros bumi laju matahari dan putaran bumi dengan sebutan waktu. Di Indonesia mengalami beberapa masa dan diberbagai masa manusia punya paradigma yang selalu berbeda dalam bersikap, dan menanggap juga dalam menggapai cita-cita luhur di dalam dunia kesantrian dan pesantren.
Ada beberapa poin yang perlu kita jadikan i’tibar diantaranya era penjajah pesantren sangat digandrungi karena bukti dan janji hidup layak (hidup mandiri berseteru dengan penguasa), di era merdeka tetap sedia kala karena belum banyak perubahan tata sosial, tata wiyata mandala, dan tata nugraha, era reformasi perubahan yang sangat pesat telah terjadi dekadensi hebat, banyak di berbagai pelosok tanah air yang menyebabkan Pondok Pesantren tinggal cerita.
“Sedangkan penyebab hampa rasa pesantren dikarenakan tidak menjanjikan hidup layak dalam anggapan masyarakat untuk masa depan seperti dalam cuitan di era dahulu lulusan pesantren tidak bisa jadi PNS dll, ditambah lagi surat kabar yang kontra dengan pesantren. Diantaranya tidak memiliki lembaga formal, tidak memiliki kader fenomenal dan tidak memiliki ketahan sentrifugal. Ketika oknum pesantren bernasib kurang pas maka hal itu jadi bahan berita panas yang ganas. Ketika ada tamatan pesantren tidak kaya jadi bahan ejekan seakan jadi nasib semua sama (masa depan suram),” terangnya.
Menurut Yaqin, era milenial telah terjadi galau Nasional, yang berakibat dari galau emosional, akibat janji gombal dari para penguasa lokal maupun Nasional. Bagaimana kita melihat banyak potensi anak negeri tapi tidak diakomodasi, bagaimana tidak jika potensi akomodasi anak-anak berpotensi dan berprestasi terbatas hanya kalangan tertentu saja. Selain itu, bagaimana nasib anak-anak lain yang punya potensi, memiliki ketawadh’uan dan fight power dalam menjayakan Indonesia, menjayakan keindonesiaan, menjayakan Islam.
“Disinilah Hamalatul Qur’an berikhtiyar merespon kondisi galau ini dengan mendidik santri dengan konsep Hamalatul Qur’an Jogoroto,” mengakomodasi seluruh anak negeri untuk dididik Al-Qur’an dengan slogan “Sudah! Ngaji saja.” Hamalatul Qur’an Jogoroto lahir dari rahim Madrasatul Qur’an yang dibidangi oleh YPA Ulul Albab Surabaya dan di support nutrisi oleh banyak lembaga untuk mewujudkan cita-cita luhur Hadratussayikh KH. Hasyim Asy’ari,” jelasnya.
Oleh karena itu Halamatul Qur’an membuat progam walaupun program ini inposible dalam asumsi publik, ghoiru ma’qul menurut anggapan banyak orang dan merupakan suatu yang langka. Semua serba “akselerasi.” Program-program tersebut diantaranya Al-Qur’an + Bahasa Inggris Bahasa Arab, Al-Qur’an + Kitab Turost, Al-Qur’an + Sains, Pondok Pesantren Salafiah wajar Dikdas dikarenakan banyak usul permintaan wujud sekolah formal, esantren putri, perguruan tinggi, Ma’had Ali dan pesantren megah mewah kolaborasi.
Legislatur HQ dan para kiai mengambil inisiatif dengan menunjuk penyelenggara managerial HQ Putri 1 Jarak Kulon, HQ Putri 2 Ringinagung Kediri, HQ Putri 3 Gebang Plemahan Keidiri, HQ Putri Assyahadah Surabaya. Menunjuk penyelenggara sekolah SMP Islam HQ Al-Ijabah Nganjuk, SMK Islam HQ Al-Ijabah Nganjuk, dan SMP HQ Ringinagung Kediri.
“Hamalatul Qur’an dalam mempersiapkan uborampe di seluruh unit HQ dengan cara menyaring secara alami tanpa ada yang rugi dari berbagai sisi menyusun kurikulum riyadoh untuk seorang pemegang kuasa, pengambil keputusan, pembuat neraca, pemutus fakta dan penyetabil sediakala. Hamalatul Qur’an memasuki wisuda ke-8 beraktifitas tanpa cegah-tangkal hingga selalu mangkal dengan jelas ujung pangkal aqidah sebagai pangkal dan tahfidh sebagai bekal ibadah sebagai ujung yang selalu kunjung,” tandas Yaqin. (lis)










