Caption Foto : Kepala SMK Dwija Bhakti Jombang Arief saat ditemui di ruang kerjanya

mediapetisi.net – SMK Dwija Bhakti Jombang tetap melakukan pembelajaran dengan sistem shift dan tetap berupaya agar siswa dapat melaksanakan uji keahlian dengan praktek. Selasa (2/11/2021)

Kepala SMK Dwija Bhakti Jombang,  Arief Sugiharto ketika dikonfirmasi di ruang kerjanya menyampaikan, setelah Kabupaten Jombang dinyatakan sudah masuk level 1 dalam penyebaran covid 19, SMK Dwija Bhakti menerapkan sistem pembelajaran shift yaitu daring dan luring secara bergantian sesuai jadwal yang diatur oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum.

“Anak – anak jam belajarnya pun tidak bisa maksimal dan belum bebas 100% meskipun Jombang sudah dinyatakan level 1 karena kita tetap menjaga agar tidak ada lagi Covid-19 gelombang tahap 3 dan tetap menjaga protokoler kesehatan begitu pula dengan anak – anak yang melaksanakan pembelajaran praktek dengan sistem bergilir atau shift kami pun juga sudah berupaya agar protokoler kesehatannya dijaga terutama yang paling sulit adalah menghindari kerumunan jangankan anak – anak orang dewasa pun juga terkadang kurang menghindari kerumunan,” ungkapnya.

Arif juga mengatakan bahwa siswa siswi SMK Dwija Bhakti dan pihak sekolah sudah siap melaksanakan praktek kerja industri (Prakrin) bahkan untuk kelas 11 diberi materi pembekalan atau materi khusus sebab selama kurang lebih 1 tahun tidak bisa maksimal melakukan pembelajaran di praktek akhirnya dari pihak sekolah memberikan pembelajaran khusus untuk praktek untuk menyongsong pelaksanaannya praktek kerja industri.

“Sebetulnya untuk saat ini namanya praktek kerja industri (Prakrin) bukan Pendidikan Sistem Ganda (PSG) lagi, karena kalau PSG ini ada di zamannya menteri pak wardiman jadi PSG itu pendidikan sistem ganda yang artinya pembelajaran 50% di sekolah dan 50% di industri. Namun untuk di Indonesia kayaknya sulit untuk menerapkan Pendidikan Sistem Ganda atau PSG karena jumlah murid atau jumlah siswa di Indonesia dibandingkan dengan jumlah industri yang ada di Indonesia terlalu banyak jumlah siswa sehingga untuk melaksanakan PSG tidak bisa atau kesulitan,” jelasnya.

Sementara itu, praktek kerja industri untuk siswa siswi SMK Dwija Bhakti dan pihak sekolah sudah siap melakukan kegiatan tersebut, hanya saja tempat industri yang akan ditempati bersedia atau tidak, karena ada beberapa industri yang belum siap menerima anak-anak untuk melaksanakan prakerin di tempat industri tersebut dan ada pula kemungkinan belum bisa menerima anak prakerin sebab takut adanya penyebaran covid 19 atau tertularnya covid-19 bisa jadi juga di industri untuk saat ini pekerjaannya agak lesu atau menurun sehingga dari pihak industri sendiri juga kesulitan dengan adanya prakerin tersebut.

“Apabila kami terkendala pada pelaksanaan praktek kerja industri maka kami akan menguatkan lagi pada ada pelajaran UKK (Ujian Kompetensi Keahlian) hanya saja UKK ini tidak sama dengan prakerin namun anak-anak langsung terjun dalam dunia kerja nyata. Untuk anggaran antigen pelaksanaan praktek kerja industri ditanggung oleh pihak siswa sendiri yaitu orangtua karena dari pihak sekolah juga tidak bisa atau belum bisa mengambilkan anggaran dari lain sekolah. Namun ada pula pihak industri yang menyediakan tempat swab antigen entah itu dua minggu sekali atau beberapa minggu sekali,” terangnya. 

Untuk saat ini sudah ada beberapa kelompok atau kisaran kurang dari 10% siswa kita yang sudah melaksanakan praktek kerja industri, ada yang di Jombang dan Surabaya. Karena tidak semua industri di Jombang dan industri yang lain menerima anak-anak prakerin dan harapannya kepada anak-anak yang melaksanakan praktek kerja industri mereka adalah anak-anak pilihan dan anak-anak yang punya keistimewaan bisa praktek kerja di industri dengan baik maka tolong dijaga kepercayaan dari sekolah terutama saat kembali ke sekolah.

Tidak hanya itu, wajib tidaknya