Caption Foto : Kepala Dinas Kesehatan drg. Budi Nugroho saat diwawancarai awak media

mediapetisi.net – Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang terus berupaya melakukan langkah-langkah agar stunting di Jombang menurun salah satunya dengan pentahelix rembuk stunting. Selasa (21/9/2021)

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang drg. Budi Nugroho, MPPM saat diwawancarai mengatakan Pemkab Jombang terus berupaya melakukan langkah-langkah agar stunting di Jombang menurun, salah satunya menggelar Rembuk Stunting yang merupakan eksen plan dengan melibatkan seluruh stakeholder. Kedepannya juga ditekankan bahwa persiapan pra-nikah bukan persoalan sepele dan dalam menyiapkan generasi penerus harus dengan persiapan yang sungguh – sungguh.

“Rembuk Stunting salah satu upaya untuk penurunan kasus stunting di kabupaten Jombang sehingga ada tahapan – tahapan yang harus kita lakukan dengan konsep pentahelix ini supaya semua terlibat, semua memahami kondisi permasalahan seperti apa, sehingga masing-masing yang bertanggungjawab terkait indikator penyebab stunting bisa berkontribusi maksimal untuk penurunan stunting,” terangnya. 

Lanjut drg. Budi, jumlah stunting di Kabupaten Jombang ada 9.000 sekitar 13,1 persen. Meskipun nasional tidak boleh lebih dari 14 persen. Sehingga ini perlu mendapat perhatian serius meskipun relatif turun karena menyangkut persoalan investasi kedepan terutama SDM (Sumber Daya Manusia). Kasus stunting di Kabupaten di 11 desa tetapi yang paling tinggi di Desa Murukan Kecamatan Mojoagung karena di daerah tersebut daerah pekerja pabrik sehingga anak kurang perhatian.

Kasus stunting bukan dari keluarga miskin saja tetapi dari keluarga mampu juga dan penyebabnya bisa kurang gizi bisa dari ASI maupun pendamping ASI karena orang tua juga menentukan pola akses yang tidak begitu bagus jadi keterpenuhan gizi ini justru kebutuhan utama dan harus terpenuhi. Untuk itu di saat ibu hamil makan lebih banyak dari biasanya seperti banyak makan buah dan sayur serta dilengkapi lauk pauk.

“Di masa pandemi juga berpengaruh karena secara otomatis perekonomian menurun maka dengan intervensi pemerintah dengan bantuan sosial seperti mendapat bantuan sembako dan makanan, dari posyandu pun meskipun bisa dilakukan secara virtual namun itupun juga tidak maksimal dalam melakukan pencegahan stunting. Untuk itu cegah stunting karena anak stuntinh cenderung lebih kerdil dibanding anak seusianya,” pungkasnya. (lis)