Caption foto : Putri Gus Dur.ketua PC Ansor,Inti Jombang, Pengurus Gereja serta undangan

JOMBANG :Masyarakat Lintas Agama dan Keyakinan Jombang menggelar Haul KH. Abdurrahman Wahid biasa akrab dipanggil Gus Dur yang ke-9 dengan tema “Bersinergi, menuju kearifan Berbangsa dan Bernegara”. Dihadiri Anita Wahid, Ketua PC Ansor Jombang, INTI Jombang, gereja katolik Santa Maria, PC LAKPESDAM NU, GPI, GPDI, AHMADIYAH Jombang, GJKW, GKI, BKSG, PHDI dan Gusdurian Jombang. Bertempat di Gedung Paroki Santa Maria Kompleks Wijana Jombang. Sabtu Malam (2/2/2019)

Putri ke-3 Gus Dur, Anita Wahid mengatakan bahwa sikap kesederhanaan Gus Dur tidak pernah berubah, bagi Gus Dur fasilitas bukan hal yang harus didapatkan karena status, bahkan dalam kehidupan sehari-hari Gus Dur bersama istri merupakan sosok yang tidak pernah gengsi, mereka orang yang apa adanya, bahkan ketika menjadi Presiden pun Gus Dur tidak pernah membeda-bedakan siapa yang dihadapi, semua diperlakukan sama. jelasnya saat diwawancarai

“Ada 2 hal yang mendasari sikap Gus Dur diantaranya berpegangan dengan nilai kemanusiaan, ketika membela kaum minoritas Gus Dur bukan membela keminoritasannya tetapi yang dibela adalah nilai kemanusiaannya dan Gus Dur selalu berpegang pada prinsip memperjuangkan orang-orang yang dilemahkan, tidak bergantung pada mayoritas dan minoritas,” ujarnya.

Lanjut Anita, untuk mencapai suatu keadilan, Gus Dur pernah bilang bahwa perdamaian tanpa keadilan itu adalah ilusi yang artinya untuk mewujudkan perdamaian di Indonesia ini maka yang harus diperjuangkan adalah keadilan, apa yang diperbolehkan kepada satu kelompok itu harus diperbolehkan juga untuk kelompok lain, jika hal tersebut ditegakkan maka yang terjadi adalah perdamaian yang sebenarnya dan semua orang harus berani menyuarakan bahwa keadilan adalah hal yang paling penting, karena dari situlah akan tercipta perdamaian, jelasnya.

Anita menambahkan, Kegiatan tersebut diadakan oleh lintas agama dan keyakinan yang patut disyukuri, banyak yang berstigma negative terhadap orang yang berbeda hanya karena tidak ada pergaulan dengan mereka, ketika bersama seperti ini ternyata banyak sekali persamaan, yaitu ingin hidup damai dan tentram bersama-sama. Anita berharap untuk generasi muda memiliki cantolan nilai yang menurutnya akan dijadikan panduan untuk sisa hidupnya, sehingga semua kegiatan mengacu pada keselarasan nilai tersebut agar tidak dapat terombang-ambing oleh arus informasi bahkan mampu menegaskan cara untuk melayani masyarakat, harapnya.

Senada dengan Maria selaku panitia acara, bahwa, acara ini mengingatkan generasi muda untuk selalu mengingat ajaran Gus Dur dan ditiru oleh generasi muda agar situasi negara ini dapat seperti dahulu, saat ini Pancasila dan kemanusiaan tergoyahkan, serta macam-macam kasus bangsa saat ini.katanya

“Kegiatan ini diadakan di tempat berbeda setiap tahun, agar semua tahu dan dapat merasakan hal yang sama, tidak hanya di satu tempat saja. Untuk tahun ini mengundang 300 orang dari berbagai agama dan etnis yang ada di kabupaten Jombang, terutama etnis Tionghoa yang mana jasa Gus Dur sangat berjasa bagi mereka. Gus Dur tidak melihat minoritas dan mayoritas tetapi sisi kemanusiaan yang ditujukan,” ungkapnya.

Maria berharap, kedepannya anak muda yang mengajak yang senior untuk mengadakan acara ini, bukan senior yang mengajak generasi muda, karena jika anak muda tidak memiliki rasa peduli dan toleransi yang tinggi Indonesia akan hancur, untuk itu kepedulian dari generasi muda harus ditumbuhkan jika tidak ditumbuhkan akan berbahaya bagi bangsa Indonesia, pungkasnya. (rin/yun)