Caption Foto : Direktur Yayasan PLATO saat pemaparan

mediapetisi.net – FGD (Focus Group Discussion) penguatan program RCEE (Rick Communication dan Community Engagement) 2022 dalam rangka percepatan pencegahan stunting di Kabupaten Jombang Bersama Yayasan PLATO yang didukung UNICEF dan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Bertempat di ruang PSC Kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang. Jum’at (17/6/2022)

Direktur Yayasan PLATO Dita Amalia menyampaikan PLATO lembaga nirlaba yang berdiri pada tahun 2012. Stunting masih menjadi permasalahan gizi yang dialami oleh dunia, termasuk Indonesia dan menjadi program prioritas Nasional. Karena stunting tidak hanya menghalangi seseorang memperoleh potensi pertumbuhan fisik, namun juga kemampuan intelektual, bahkan kesejahteraan.

Salah satu strategi yang dilakukan pemerintah untuk percepatan penanganan stunting adalah pelibatan pihak swasta, masyarakat dan komunitas. PLATO juga menyadari pentingnya melaksanakan program yang selaras dengan kebutuhan pemerintah, maka PLATO yang didukung UNICEF ini akan melakukan kegiatan pencegahan dan penanganan stunting khususnya di Kabupaten Jombang,” ungkapya.

“Lanjut Dita, kabupaten Jombang merupakan salah satu Kabupaten prioritas tahun 2022 untuk percepatan penanganan stunting, karena stuntingnya berada di angka 21,7%. Untuk itu, bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Jombang akan melakukan upaya untuk pencegahan dan penanganan stunting.

“Kami akan berkomitmen dan konsisten dalam melakukan upaya penanggulangan stunting, namun tentu segala upaya ini perlu kerjasama dari berbagai pihak terkait,” terangnya. 

Untuk itu, PLATO akan membantu mengoptimalkan peran posyandu. Karena Posyandu adalah garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan stunting. Melalui pemantauan pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita yang dilakukan satu bulan sekali melalui pengisian kurva KMS, balita yang mengalami permasalahan pertumbuhan dapat dideteksi sedini mungkin, sehingga tidak jatuh pada permasalah pertumbuhan kronis atau stunting. 

“PLATO juga membutuhkan 30 Kader komunitas bisa penunjukkan dari Dinas Kesehatan maupun Forum Anak Jombang juga media. Pencegaham difokuskan pada wilayah yang stuntingnya tinggi. Kader ini untuk mengkomunikasikan pesan kepada ibu hamil/menyusul dan keluarga dalam upaya meningkatkan permintaan penyediaan layanan esensial bagi pengembangan kesehatan anak,” jelas Dita.

Sementara itu, Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan Jombang dr. Wahyu S. menyampaikan intervensi gizi Spefisik yakni upaya-upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara langsung dan kegiatan ini pada umumnya dilakukan oleh sektor kesehatan diantaranya berupa Imunisasi, PMT ibu hamil dan balita, monitoring pertumbuhan balita di Posyandu dengan sasaran khusus kelompok ibu Hamil, Ibu Menyusul dan Anak 0-23 bulan) serta kontribusinya 30%. Sedangkan intervensi gizi sensitif yakni paya-upaya untuk mencegah dan mengurangi gangguan secara tidak langsung dengan berbagal kegiatan pembangunan pada umumnya non-kesehatan diantatanya penyediaan air bersih, kegiatan penanggulangan kemiskinan, dan kesetaraan gender dengan sasaran masyarakat umum. 

“Kmai sudah berupaya semaksimal mungkin untuk pencehahan stunting, di kabupaten Jombang dari tahun le tahun sudah menurun. Apalagi sekarang remaja banyak yang takut gemuk sehingga  makannya gk teratur, akhirnya berat badan sama tinggi badan tidak imbang. Untuk itu kami memgajak remaja kampanyekan untuk hidup sehat dan konsumsi pil penambah darah. Karena nantinya akan berpengaruh disaat akan menikah maupun sudah menikah. Kalau gizinya tidak seimbang dan berat badan tidak ideal jika akan melahirkan bisa kesulitan,” ujarnya. 

Stunting sendiri merupakan kekurangan gizi pada bayi di 1000 hari pertama kehidupan yang berlangsung lama dan menyebabkan terhambatnya perkembangan otak dan tumbuh kembang anak. Karena mengalami kekurangan gizi menahun, bayi stunting tumbuh lebih pendek dari standar tinggi balita seumurnya.

Untuk mencegah stunting, pihaknya juga mengoptimalkan posyandu karena di posyandu juga terdapat kegiatan-kegiatan yang bersifat diseminasi informasi tentang gizi seimbang dan ASI eksklusif, pemberian makanan bayi dan anak (PMBA), yang bertujuan meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku positif ibu balita dalam mencegah stunting pada balitanya.

“Selain itu, kader posyandu dilatih untuk memahami tugas serta kewajibannya dan tenaga kesehatan juga diberikan edukasi yang sesuai dengan perkembangan issue kesehatan yang sedang berjalan. Untuk itu, kami terus berupaya untuk berkontribusi dalam mempercepat pencapaian karena pemerintah targetkan penurunan stunting menjadi 14 persen pada 2024,” tukas dr. Wahyu. (lis)