Caption Foto : Kabid. Kesmas Dinkes Jombang dr. Wahyu saat pemaparan

mediapetisi.net – Pemerintah Kabupaten Jombang melalui Dinas Kesehatan melaksanakan Optimalisasi Desa/Kelurahan siaga aktif dalam pencegahan dan penanggulangan masalah kesehatan “Penurunan AKI/AKB dan Stunting” di Kabupaten Jombang 2022. Diikuti Promkes Puskesmas, Kepala desa, bidan desa, kader desa siaga di 11 Puskesmas, 11 desa lokus stunting, Lintas program (KGM, kesling kesjaor, P2PM, survim) dan Lintas Sektor (DPMD, DPPKB PPPA). Bertempat di Green Red Syariah Hotel Peterongan Jombang. Rabu (8/6/2022)

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat dr. Wahyu Sriharini menyampaikan desa siaga merupakan desa yang penduduknya memiliki kesiapan sumber daya dan kemampuan serta kemauan untuk mencegah dan mengatasi masalah kesehatan, bencana, dan kegawadaruratan, kesehatan secara mandiri. 

“Tujuan optimalisasi Desa/Kelurahan siaga aktif ini untuk meningkatkan kemandirian desa siaga madya menjadi purnama dan mandiri dalam mengatasi permasalahan kesehatan di desa lokus stunting. Selain itu untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat desa tentang pentingnya kesehatan,” ungkapnya.

Sedangkan peningkatan kesehatan lingkungan di desa yakni dengan meningkatnya kemampuan dan kemauan masyarakat desa untuk menolong diri sendiri di bidang kesehatan. Ciri-Ciri Desa Siaga Aktif diantaranya minimal memiliki pos kesehatan desa yang berfungsi memberi pelayanan dasar (dengan sumberdaya minimal 1 tenaga kesehatan dan sarana fisik bangunan, perlengkapan serta peralatan alat komunikasi ke masyarakat dan ke puskesmas). Masyarakatnya mengembangkan UKBM, melaksanakan surveilans berbasis masyarakat, memiliki sistem kedaruratan  kesehatan, penanggulangan bencana, serta penyehatan lingkungan. Selain itu masyarakat berperilaku hidup bersih dan sehat. 

Caption Foto : Lestari Perwakilan dari Dinkes Jatim saat jadi nara sumber

Untuk sasaran pengembangan desa siaga aktif mempermudah strategi intervensi, sasaran ini dibedakan menjadi tiga yakni semua individu dan keluarga di desa yang diharapkan mampu melaksanakan hidup sehat, peduli, dan tanggap terhadap permasalahan kesehatan di wilayah desanya. 

“Untuk itu, pihak-pihak yang berkepentingan diharapkan dapat memberikan dukungan baik kebijakan, peraturan, dana, tenaga seperti Kepala desa, Camat, Pejabat terkait, LSM, swasta, donatur, dan pemilik kepentingan lainnya,” jelas dr. Wahyu.

Tingkat perkembangan desa/kelurahan siaga aktif dimulai dari Pratama, Madya, Purnama dan Mandiri. Ada beberapa kriteria yang wajib dipenuhi untuk mencapai tingkatan tersebut. Diharapkan Desa dan kelurahan di Kabupaten Jombang dapat menjadi Desa/Kelurahan siaga aktif Purnama dan Mandiri.

Sementara itu, keberhasilan pengembangan desa/kelurahan siaga aktif dapat diukur dari indikator input, proses, output, maupun outcome. 

“Indikator Output yakni jumlah persalinan dalam keluarga yang dilayani, kunjungan neonates (KN2), jumlah bayi dan anak balita BB tidak naik ditangani, jumlah balita gakin umur 6-24 bulan yang mendapat MP-ASI dan jumlah balita yang mendapat imunisasi. Sedangkan Indikator outcome meningkatnya jumlah penduduk yang sembuh/membaik dari sakitnya, jumlah penduduk yang melaksanakan PHBS, berkurangnya jumlah ibu melahirkan yang meninggal dunia dan berkurangnya jumlah balita dengan gizi buruk,” jelas dr. Wahyu.

Sementara itu  Lestari Rahajoe, S.KM Sub kor Promkes dan Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Jatim menyampaikan suatu kelurahan/ desa dikatakan sebagai kelurahan/ desa siaga aktif jika penduduknya dapat mengakses pelayanan kesehatan dasar setiap hari. Penduduknya dapat mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumberdaya Masyarakat (UKBM) dan melaksanakan Surveillance Berbasis Masyarakat (SBM) serta masyarakat menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).

Sedangkan pelayanan kesehatan dasar dilaksanakan tenaga kesehatan dengan memberikan pelayanan kesehatan ibu hamil, ibu menyusui, anak, penemuan dan penanganan penderita penyakit. Untuk SBM yang melaksanakan adalah kader dan tenaga kesehatan dengan pengamatan dan pemantauan penyakit, kesehatan ibu dan anak, gizi, lingkungan dan perilaku yang menimbulkan masalah kesehatan masyarakat. Untuk pelaporan kurang dari 24 jam kepada tenaga kesehatan untuk respon cepat.

“Agar masyarakat mandiri di bidang kesehatan dan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakat yakni melaporkan segera jika dirinya, keluarganya dan tetangganya menderita penyakit menular. Memanfaatkan dan menanam tanaman obat keluarga (TOGA), berobat jika sakit atau mengantar orang lain berobat, periksa hamil secara teratur ke tenaga kesehatan, makan dengan gizi berimbang dan menggunakan garam beryodium pada saat memasak serta tersedia oralit untuk balita,” pungkasnya. (lis)